Mencari Web Hosting Terbaik dan Termurah? Baca Tips Ini Dulu!

Web Hosting Terbaik dan Termurah

Para webmaster dan blogger tentu paling akrab dengan wacana dan rekomendasi mengenai web hosting, dan tentu saja, hal awal yang akan ditanya adalah: “Web Hosting terbaik apa ya?” Kemudian yang kedua: “Hosting yang termurah?” Lalu yang ketiga: “Ciyuss?? Miappaaah?” (hehe, just kidding…). Bagi blogger atau webmaster yang baru berkecimpung di dunia web, atau yang “bosan pake gratisan karena error melulu dan karena selalu disuspend” (hahaha), tentu akhirnya, jika serius, pasti akan memilih untuk bermigrasi ke hosting berbayar. Nah tentu pertanyaan-pertanyaan di atas pun akhirnya muncul juga. Apalagi nih, jika anda sedang mendesain dan mengembangkan web, dukungan hosting terbaik sangat dibutuhkan.

Sekilas Saja…..

Ceritanya begini nih, saya baru saja bermigrasi dari webhosting lama ke webhosting baru sekitar 3 hari yang lalu. Alasannya karena kontrak sudah mau habis, dan yang lebih kuat lagi adalah saya ingin mencari webhosting yang memberikan kuota bandwidth lebih besar, mengingat traffic website ini semakin bertambah dimana statistik Alexa hampir menyentuh 100 ribuan dan di webhosting lama kuota bandwidth sesuai paket sudah semakin mepet. Untuk melakukan upgrade sayang rasanya, karena biaya di webhosting tersebut terkenal cukup mahal. Akhirnya, seperti biasanya, saya membuka list/daftar webhosting Indonesia dan manca untuk membrowsing satu per satu dan melihat paket hosting website yang ditawarkan. Karena terburu-buru saya langsung menjatuhkan pilihan pada sebuah webhosting X yang belum pernah saya coba sebelumnya. Paket yang ditawarkan cukup menarik dan harganya juga bersahabat (namun untuk klien saya belum berani menjatuhkan pilihan pada webhosting baru dan masih setia dengan webhosting lama…hehe).

Singkat cerita akhirnya saya segera membeli sebuah paket hosting. Kemudian, seperti biasanya (lagi), saya tidak langsung mengunggah file-file blog ini, namun melakukan test dengan instalasi baru (WordPress). Setelah instalasi selesai, saya mencoba membuka halaman dashboard dan web berulang kali, fungsinya untuk melihat sejauh mana “kekuatan” server dalam menerima “serangan bertubi-tubi” dari kueri dan entry process yang masuk. Oya, ini sebenarnya cara paling “bodoh, tapi manjur :p . Selang tidak lama, saya mulai melihat beberapa error, seperti load yang sangat lama, serta 502 Bad Gateway. Apes sudah!! Jelas berarti kekuatan CPU, memory, dan lain-lain tidak sebesar yang diharapkan atau karena ada kesalahan tertentu sehingga memakan CPU, memory, dan virtual memory dalam porsi yang cukup tinggi. Padahal instalasi tersebut benar-benar baru dan tidak mengandung plugin apapun. Artinya, tanpa proses kueri dari engine, plugin, dan konten pun CPU atau server sudah bermasalah. Ini berarti bukan kesalahan user.

Saya kemudian agak “tidak mengindahkan” gejala-gejala tersebut, menghapus instalasi sebelumnya, dan langsung mengunggah file serta database blog. Dan, memang benar seperti dugaan, error masih saja terjadi, 502 gateway, load lama, high CPU usage, limit hits, dan tetek bengek lainnya bergantian muncul di statistik usage dalam CPanel. Saya kemudian mengontak CS dan menyampaikan problem ini. Dia menyarankan untuk mengurangi plugin dan mematikan GZIP compression (karena memang di awal kueri caching, jenis kompresi ini akan memakan CPU tinggi). Saya menyampaikan bahwa sebelumnya sejak saya menggunakan instalasi fresh WordPress, masalah ini sudah terjadi, dan di hosting lama saya belum pernah mengalami hal demikian. Bahkan saya sudah mematikan beberapa plugin penting dan juga menghapus GZIP compression. Lalu, “Oh.. Gitu”, jawabnya….

Akhirnya, selang beberapa jam, dan karena masalah ini terus saja terjadi, saya kontak melalui Support Tickets. Sehari kemudian saya mendapatkan jawaban bahwa kasus yang terjadi disebabkan oleh versi Nginx yang digunakan sebagai proxy dan caching tidak stabil. Mereka kemudian mengupgrade ke versi lain. Alhamdulillah, beberapa jam kemudian, kondisi sudah normal. Hanya beberapa jam, maksudnya. Sampai saat ini, kasus ini kadang masih terjadi, meskipun saya sudah “mengorbankan” beberapa plugin penting yang memakan load tinggi. Saya sudah cukup malas untuk mengontak kembali dan lebih baik menunggu hingga masa sewa selesai dan buru-buru cabut (hahaha). Saya sangat sering melakukan kontak dengan CS atau Support beberapa webhosting, dan kebanyakan jawaban intinya adalah “kesalahan di tangan user”. Inilah yang bikin saya malas. Namun demikian, ini kasus terparah yang pernah saya alami, dan memang satu-satunya. Sebelumnya kasus yang saya alami dengan beberapa webhost paling hanya masalah teknis kecil, dan kebanyakan adalah kesalahan saya :p

Cukup panjangkah ceritanya? Sorry 😉 . Apa yang bisa kita petik dari cerita saya di atas? Mari kita lihat dalam tips-tips berikut yang satu sama lain saling berkaitan, dan fokus dari tips ini adalah pada jenis shared hosting (“satu untuk semua”), jadi bukan mengacu pada cloud hosting, dedicated hosting, dan sejenisnya, OOT tuh…).

Tips Sebelum Membeli/Menyewa Paket WebHosting

1. Memilih webhosting sama halnya dengan memilih “pacar”. Ada banyak pilihan dan tawaran, masing-masing menawarkan berbagai macam kelebihan, termasuk senjata kata “murah”, tampilan desain homepage yang “aduhai… bahenolnya”, kuota, paket hemat, dan lain sebagainya. Tapi kadang ada satu hal yang luput dari kita, seberapa besar kuota CPU yang diberikan pada user (terutama paket Personal, Starter, Hemat atau sejenisnya)? Boleh saja inforrmasi CPU yang digunakan segede gajah, tapi lihat dulu berapa persen jatah yang diberikan? Tanyakan pada CS atau support.

2. Jika anda ingin menghosting CMS sekelas WordPress, perhatikan bahwa WordPress memang terkenal menggunakan resource yang cukup tinggi. Jadi, jangan hanya terpatok pada berapa besar kuota space dan bandwidth yang diberikan, tanyakan dengan benar sebelumnya apakah CPU resource yang diberikan pada paket tersebut cukup bagus untuk meng-hosting WordPress atau jenis engine lainnya (Jomla, Drupal, Prestashop, dll). Ingat, keberadaan fitur installer Softaculous tidak menjadi jaminan bahwa anda bisa menginstal segala jenis engine yang tersedia.

3. Perhatikan pada jenis bandwidth yang diberikan, banyak hosting yang mengaku memberikan kuota lebih besar bahkan unlimited. Tidak ada website starter atau startup yang akan memakan bandwidth segede gunung untuk awal-awal “karirnya”, bahkan yang sudah mapan dan bertraffic besar pun belum tentu. Batasan kuota bandwidth yang lebih kecil bukan berarti webhosting itu buruk dan paketnya mahal, tapi memang dikondisikan pada traffic yang mungkin diterima. Jangan tergiur pada istilah “unlimited bandwidth”, karena webhosting itu tahu website user tidak akan mencapai bandwidth segede gunung. Boleh jadi “unlimited bandwidth”, tapi kalau CPU dan servernya kacau bagaimana? Jadi jangan gunakan kuota bandwidth sebagai ukuran layanan. Masalah bandwidth bisa diakali dengan caching jika CPU, memory, dan server cukup bagus.

4. Ada dua jenis webhosting sebenarnya, yang pertama adalah sebagai seller (sekaligus owner atau dealer), mereka adalah pemilik cloud, cloud VPS hosting, dll atau yang levelnya lebih tinggi dan memiliki handle penuh terhadap server-server yang dipegang. Layanan pada jenis ini biasanya agak mahal (ada juga yang murah sih), tapi layanan serta pengetahuan employee-nya cukup bagus dan biasanya ter-sertifikasi (MCP, MCSE,atau RHCE). Sedangkan yang kedua adalah reseller. Webhosting jenis ini biasanya memiliki paket dengan harga cukup bombastis, murah! Ada beberapa yang menggunakan server-server cukup baik. Sayangnya, ada sebagian lain kurang bisa melayani dengan baik, memiliki pengetahuan teknis yang kurang memadai, serta karena tidak memiliki akses penuh ke server, maka penanganan tidak bisa cepat dan kurang memuaskan. Namun bukan berarti seluruh reseller webhosting itu buruk, ada banyak reseller webhosting Indonesia yang cukup bagus. Jika anda harus menggunakan jenis reseller webhosting, pilih dan pilah mana yang terbaik dengan pertimbangan-pertimbangan yang sudah disampaikan sebelumnya.

5. Jangan terburu-buru. Seperti yang saya sampaikan pada poin pertama, memilih webhosting seperti memilih “pacar”, terlebih lagi “istri”! Gunakan referensi sebanyak-banyaknya dari berbagai referensi atau sumber, misalnya dari Google, teman, artikel-artikel, dan lain-lain. Kunjungi website-website layanan hosting satu per satu, bandingkan paketnya, dan ajak CS untuk berbicara. Tanyakan poin-poin penting seperti yang telah disampaikan di atas atau boleh saja pertanyaan-pertanyaan “bodoh” sekalipun, karena justru itu sangat penting untuk melancarkan semuanya. Tanya juga pada rekan-rekan yang sudah memiliki pengalaman pada hosting ini dan itu. Ini adalah langkah paling penting.

6. Jangan terpaku atau berpatokan pada harga. Setiap webhosting memiliki harga berbeda-beda dan memang tidak ada patokan resmi mengenai standar harga. Saya tidak bilang yang murah itu tidak bagus, dan saya juga tidak bilang yang lebih mahal itu bagus. Justru yang saya tekankan adalah harga bukan jaminan layanan. Harga lebih murah bukan berarti layanan kurang bagus, demikian pula sebaliknya. Anda tidak bisa menggunakan harga sebagai patokan layanan. Tapi memang, jika harga kelewat murah, anda patut mempertanyakan (dengan sebenar-benarnya pertanyaan, bertanyalah pada CS mengenai detil semua layanan yang diberikan).

7. Terakhir, dan kembali lagi ke masalah “pacar manusia”, ada satu perbedaan dengan memilih “pacar webhosting”. Jika anda mencari pacar atau pasangan hidup, kemudian menemukan, terasa sangat cocok, maka besar kemungkinan anda bisa menerima dia apa adanya lengkap dengan berbagai kekurangannya. Bedanya dengan webhosting, tentu anda tidak bisa menerima kekurangan-kekurangan yang terjadi. Persamaannya, jika anda sudah cocok, akan sangat berat untuk “berpindah ke lain hati”. Segera ambil tindakan atau keputusan jika anda sudah menempuh berbagai macam cara namun masalah hosting tidak terselesaikan, baik karena kesalahan sendiri atau kesalahan hosting. Segera lakukan upgrade jika memang itu yang dibutuhkan, atau segera cari hosting lain atau jenis hosting lain yang memungkinkan anda menjalankan website dengan baik. Hosting adalah nyawa web; kelancaran blog untuk sharing dan berbisnis, atau performa website untuk transaksi penjualan ada di tangan hosting.

You May Also Like

About the Author: Xsoal

Hello, I am Admin Xsoal.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *